
Oleh : Desnaria, Elisa Putri Anugerah Br Ginting, Gratia Oktobrina Br Tarigan, Ira Putri Lopiana Br Ginting, Jefta Tio filus Perangin-angin, Yoel febron Ginting
Secara umum, model pembelajaran adalah suatu kerangka atau pola yang berfungsi sebagai pedoman terstruktur bagi seorang guru dalam merencanakan dan melaksanakan seluruh kegiatan belajar mengajar. Fungsi utamanya adalah membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Model pembelajaran diartikan sebagai kerangka kerja yang memberikan suatu gambaran yang sistematis untuk melaksanakan pembelajaran guna membantu belajar siswa dalam mencapai tujuan tertentu.
Model pembelajaran juga dijelaskan sebagai suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas. Pandangan lain menguatkan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematik dalam pengorganisasian sebuah kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan pendapat diatas, maka disimpulkan model pembelajaran adalah tingkatan tertinggi dalam kerangka instruksional yang mencakup pendekatan, strategi, metode, dan teknik, serta harus memiliki prosedur yang sistematis dan berlandaskan pada teori pendidikan yang jelas.
- Problem Based Learning (PBL)
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) didefinisikan sebagai kerangka pembelajaran yang menjadikan masalah dunia nyata sebagai fokus utama, bertujuan untuk mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan memecahkan masalah, dan penguasaan konsep yang esensial. Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan instruksional di mana masalah otentik berfungsi sebagai konteks bagi siswa untuk menyelidiki dan mempelajari materi. Problem Based Learning (PBL) menggunakan masalah nyata untuk melatih berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Problem Based Learning (PBL) sebagai model kurikulum yang berpusat pada masalah, yang merangsang kolaborasi dan interaksi antar peserta didik dalam kelompok kerja.
Kelebihan dan kekurangan dari Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) :
- Kelebihan
PBL menawarkan berbagai manfaat utama dalam proses belajar: Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis: Siswa didorong untuk menganalisis masalah dan menemukan solusi dari berbagai sudut pandang.
Mendorong Pembelajaran Mandiri: Siswa menjadi subjek aktif yang bertanggung jawab penuh atas pembelajarannya sendiri. Keterkaitan dengan Dunia Nyata: Materi yang dipelajari menjadi lebih relevan dan bermakna karena menggunakan konteks masalah otentik. Mengembangkan Keterampilan Sosial: Kegiatan kelompok PBL menumbuhkan kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan leadership.
- Kekurangan
Meskipun efektif, PBL juga memiliki tantangan dan kelemahan: Memerlukan Banyak Waktu: PBL membutuhkan alokasi waktu yang lebih lama untuk setiap fase (penyelidikan dan penyelesaian masalah) dibandingkan model konvasesional. Tidak Cocok untuk Semua Siswa: Siswa yang terbiasa pasif dan tidak memiliki motivasi tinggi mungkin kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan PBL yang aktif dan mandiri.
Membutuhkan Perubahan Peran Guru: Guru harus siap beralih dari pemberi informasi menjadi fasilitator dan mentor, yang memerlukan persiapan dan pelatihan yang lebih matang. Ketersediaan Sumber Daya: Pelaksanaan PBL sering kali membutuhkan sumber belajar, fasilitas, dan alat yang mendukung penyelidikan masalah.
- Project Based Learning (PjBL)
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) didefinisikan sebagai suatu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menjadikan proyek atau kegiatan sebagai sarana utama untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penekanan utama PjBL terletak pada aktivitas peserta didik yang pada akhirnya menghasilkan sebuah produk nyata sebagai hasil dari pemecahan masalah. Model ini, sebagaimana dicirikan dapat melibatkan peserta didik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang bersifat terbuka (tidak memiliki satu jawaban pasti). Dengan demikian, PjBL mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan mendalam, perencanaan yang matang, dan pelaksanaan yang terstruktur demi menghasilkan karya, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
Kelebihan dan kekurangan dari Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) :
- Kelebihan : Meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa: Siswa menjadi lebih aktif dan termotivasi karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Mengembangkan kemampuan 4C: Melatih dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creative thinking), kolaborasi (collaboration), dan komunikasi (communication). Menumbuhkan kemandirian: Siswa belajar mengelola dan mengatur kegiatan penyelesaian tugas secara mandiri. Memberikan pemahaman yang mendalam: Siswa dapat memahami konsep dan pengetahuan secara lebih mendalam melalui pengalaman nyata. Mempersiapkan siswa untuk dunia nyata: PjBL memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dan memecahkan masalah sesuai dengan dunia nyata.
- Kekurangan : Membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar: Proses PjBL seringkali memakan waktu lebih lama, membutuhkan lebih banyak peralatan, dan biaya yang cukup besar. Tidak cocok untuk semua materi: Tidak semua topik pembelajaran dapat diadaptasi dengan model PjBL. Kesulitan bagi siswa tertentu: Siswa yang lemah dalam percobaan, pengumpulan informasi, atau kurang aktif dalam kerja kelompok akan mengalami kesulitan. Membutuhkan guru yang terampil: Guru harus memiliki keterampilan dan pemahaman yang baik untuk menerapkan model PjBL secara efektif.
- Memerlukan fasilitas memadai: Pelaksanaan PjBL memerlukan fasilitas dan peralatan yang memadai.
- Think-Talk-Write (TTW)
Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) adalah suatu strategi pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mengintegrasikan dan mengembangkan kemampuan berpikir, berbicara (komunikasi lisan), dan menulis peserta didik secara sistematis. Model ini merupakan alur pembelajaran yang diawali dengan ‘Think’ (berpikir mandiri melalui membaca dan mencatat ide), dilanjutkan dengan ‘Talk’ (berdiskusi dan bertukar pendapat dalam kelompok), dan diakhiri dengan ‘Write’ (menuliskan hasil pemikiran dan diskusi tersebut dalam bentuk tulisan individu). TTW menekankan pada tuntutan agar siswa berpikir terlebih dahulu, kemudian mengomunikasikan ide yang telah dipikirkan, sebelum akhirnya menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, TTW berfungsi sebagai kerangka kerja yang memfasilitasi peserta didik untuk membangun pemahaman secara bertahap dan melatih keterampilan berbahasa mereka.
Kelebihan dan kekurangan dari Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) :
- Kelebihan
Kelebihan utama model ini adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan keterampilan kognitif, lisan, dan tulisan secara simultan. Melatih siswa berpikir secara logis dan sistematis (Think) serta melatih menuangkan ide secara lisan (Talk) dan tulisan (Write). Mempertajam seluruh keterampilan berpikir siswa dan mengembangkan pemecahan masalah yang bermakna. Membangun dan menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar serta meningkatkan kemampuan berbicara siswa melalui kolaborasi.
- Kekurangan
Beberapa kelemahan model TTW berkaitan dengan isu manajemen kelas dan dominasi siswa tertentu. Membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan metode konvensional, karena siswa harus melalui tiga tahap berurutan (Think, Talk, Write). Ketika siswa bekerja dalam kelompok (Talk), ide mungkin didominasi oleh rekan yang cenderung pandai, sehingga siswa yang pasif kurang terlibat. Guru harus menyiapkan media secara matang agar pelaksanaan model ini tidak mengalami kesulitan teknis atau kebingungan dalam tahapan.
Secara keseluruhan, model-model pembelajaran ini mengubah peran guru menjadi fasilitator dan mendorong siswa untuk menjadi subjek belajar yang aktif. Hubungan antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL, PjBL, TTW) dengan materi Bahasa Indonesia, khususnya teks prosedur, adalah hubungan yang sinergis, di mana bahasa digunakan sebagai alat utama untuk berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghasilkan solusi otentik. Oleh karena itu, bagi guru, memilih dan mengimplementasikan salah satu dari model-model pembelajaran ini secara tepat dan terstruktur merupakan langkah penting dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia.