
Oleh : Dr. Hikmatiar Harahap, M.H.
Menjadi bagian dari Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2025 bukan sekadar gelar atau jabatan kehormatan. Ini adalah catatan sejarah perjalanan panjang dalam memajukan literasi yang benar-benar berdampak bagi masyarakat. Di balik semangat juang dan kerja keras para relawan, tersimpan tekad yang tak kenal lelah untuk menyalakan obor pengetahuan di tengah masyarakat yang haus akan pencerahan.
Relawan sejati tidak bekerja untuk sorotan, melainkan untuk perubahan. Mereka berjuang dalam kesunyian, tanpa pamrih, menjadikan literasi sebagai ladang pengabdian yang tak mengenal kata berhenti. Di sanalah nilai luhur seorang relawan menemukan maknanya—menembus sekat-sekat kemustahilan, menghidupkan inisiatif, kolaborasi, dan kreativitas dalam semangat religius yang tulus. Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun cara berpikir cerdas dan tercerahkan.
Salah satu gagasan monumental yang lahir dari Perpustakaan Nasional RI adalah “Jihad Literasi”—sebuah gerakan yang menghidupkan literasi di rumah ibadah. Melalui program ini, rumah ibadah tidak lagi hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah wajib, tetapi juga ruang pembinaan akhlak, pendidikan moral, dan pencerahan intelektual. Perpustakaan Nasional RI telah menyalurkan Bahan Bacaan Bermutu (BBB) dan berbagai bentuk dukungan literasi untuk memperkuat gerakan ini.
Di tangan para relawan, rumah ibadah menjadi pusat literasi yang hidup. Melalui kegiatan seperti bedah buku, seminar, diskusi publik, hingga pelatihan keterampilan, literasi berkembang menjadi kekuatan sosial yang nyata. Literasi menyentuh berbagai sisi kehidupan—dari kesehatan, kesejahteraan ekonomi, kesadaran hukum, hingga kepedulian lingkungan.
Gerakan literasi di rumah ibadah bukan hanya inovasi, tetapi juga strategi sosial yang cerdas. Di tempat yang paling dekat dengan spiritualitas, literasi menemukan wajah kemanusiaannya. Ia tidak lagi berdiri di ruang akademik yang kaku, melainkan tumbuh di tengah kehidupan masyarakat, menjadi bagian dari denyut keseharian.
Karena itu, “jihad literasi” harus terus didengungkan. Ia bukan sekadar program sesaat, tetapi gerakan panjang menuju Indonesia yang unggul, adaptif, dan berkemajuan. Setiap langkah kecil para relawan adalah bagian dari tanggung jawab besar: memastikan literasi tidak hanya hidup di buku, tetapi juga berdenyut dalam setiap rumah, setiap hati, dan setiap doa.