
Kita seperti hidup di kota yang tak pernah tidur di tengah arus informasi yang luar biasa. Ini bukan karena aktivitas manusia, tetapi karena banyaknya notifikasi. Berita, komentar, dan masalah baru muncul di layar ponsel Anda setiap menit. Semua perlombaan menarik perhatian kita, tanpa memberi kita kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Paradoks menarik muncul dari fenomena ini: meskipun informasi semakin mudah diakses, maknanya semakin sulit ditemukan. Meskipun kita dapat mengakses jutaan sumber berita, kemampuan kita untuk membedakan mana yang benar, opini, atau hanya sensasi semakin berkurang. Bukan karena tidak cerdas, tetapi karena ada terlalu banyak “suara” yang mengganggu perhatian kita.
Lebih berbahaya lagi, suara informasi mengubah opini publik menjadi arena pertempuran cepat. Orang yang paling cepat menjadi viral dianggap benar. Diskusi rasional sering terhalang oleh komentar emosional, sementara argumen yang matang sering diabaikan oleh judul yang menarik.
Pada awalnya diproyeksikan sebagai ruang demokrasi digital, media sosial sekarang menjadi arena yang mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Kita mulai terbiasa membaca judul tanpa membuka artikel, membagikan berita tanpa mengecek sumber, hingga marah tanpa memahami konteks
Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah kita mengendalikan informasi, atau informasi yang kini mengendalikan kita?
Penting untuk mengambil jeda sebelum percaya. Sebelum memberikan tanggapan, membaca dan memberikan penjelasan sebelum membuat kesimpulan. Yang paling penting, menerima bahwa beberapa hal viral tidak benar.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah kekurangan informasi, tetapi kemampuan menjaga kejernihan berpikir di tengah kebisingan yang tak pernah berhenti.