
PublikaDaily — Gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, layar ponsel seakan menjadi “jendela dunia” yang tak pernah tertutup. Ia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang kerja, media belajar, bahkan sumber hiburan tanpa batas.
Namun, di balik segala kemudahannya, gadget juga menghadirkan beban baru bagi kesehatan mental masyarakat. Banyak orang kini sulit melepaskan diri dari ponsel, bahkan untuk sesaat. Rasa cemas muncul ketika baterai menipis atau koneksi internet terganggu. Fenomena ini dikenal sebagai nomophobia — ketakutan berlebihan saat tidak bisa mengakses ponsel.
Media sosial memperparah situasi itu. Dalam ruang digital yang serba cepat, banyak individu merasa harus selalu aktif, produktif, dan terlihat bahagia. Perbandingan sosial tak terhindarkan: kehidupan orang lain tampak lebih sukses, lebih menarik, dan lebih “sempurna”. Akibatnya, banyak pengguna kehilangan rasa puas terhadap diri sendiri, mengalami stres, dan merasa terus tertinggal.
Padahal, sejatinya gadget hanyalah alat bantu. Ia bukan ukuran nilai diri atau kebahagiaan seseorang. Sayangnya, banyak dari kita tanpa sadar membiarkan notifikasi menentukan ritme hidup. Waktu istirahat, interaksi keluarga, bahkan waktu pribadi pun tersita oleh layar kecil yang seolah tak pernah tidur.
Dalam konteks ini, masyarakat perlu belajar mengelola hubungan dengan teknologi secara bijak. Menetapkan batas waktu penggunaan layar, melakukan digital detox, dan membangun interaksi sosial langsung bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan mental.
Teknologi seharusnya membuat manusia lebih bebas, bukan lebih terikat. Kita membutuhkan gadget, tetapi kita juga perlu ruang untuk “diam” tanpa gangguan digital. Karena di tengah derasnya arus informasi, kedamaian sejati seringkali hanya bisa ditemukan saat kita memilih untuk tidak selalu terhubung.