
sumber : space.com
Fenomena Supermoon kembali menghiasi langit Indonesia pada Senin, 7 Oktober 2025. Bulan purnama yang dijuluki “Harvest Moon” ini mencapai puncak kecerahan pada pukul 10.47–10.48 WIB. Terjadi saat Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi (perigee) sekitar 361.458 kilometer.
Dilansir Detik dan CNBC Indonesia, meski puncaknya terjadi di siang hari, masyarakat menyaksikan Bulan purnama supermoon tampak lebih besar dan terang pada malam hari. Apalagi jika cuaca cerah dan langit bebas polusi cahaya.
Selain menyuguhkan pemandangan langit yang indah, fenomena supermoon juga memiliki dampak terhadap lingkungan. CNBC Indonesia mencatat supermoon berpotensi menimbulkan pasang air laut lebih tinggi atau banjir rob di sejumlah daerah pesisir. Oleh karena itu masyarakat di kawasan pantai diminta waspada.
Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram, I Wayan Suana, kepada Antara menjelaskan bahwa supermoon juga dapat mempengaruhi perilaku hewan liar. Pengaruh terutama hewan yang hidup di wilayah pesisir maupun hewan nokturnal. Cahaya Bulan yang lebih terang dan perubahan pasang surut dapat memicu perubahan perilaku.
Ia menambahkan, hewan darat yang aktif di malam hari, seperti kelelawar dan burung hantu, dapat mengurangi aktivitas untuk menghindari predator karena cahaya Bulan yang lebih terang. Efek pasang surut ekstrem disebutnya dapat dirasakan sejak satu hingga tiga hari sebelum dan sesudah supermoon, dengan pengaruh yang bisa berlangsung hingga lima hari.
BMKG menyebut fenomena supermoon ini dapat diamati sejak 6 hingga 8 Oktober 2025, dan menjadi salah satu puncak peristiwa astronomi menarik di tahun ini. Fenomena serupa diprediksi kembali terjadi pada 5 November dan 4 Desember 2025 mendatang.